ASAL USUL YASINAN DAN TAHLILAN

Bagikan ke Teman! :




BAB 1 SEKILAS YASINAN DAN TAHLILAN

Diposkan oleh: Muhammad Soleh - Jumat, 29 Oktober 2010
Kata Yasinan dan Tahlilan seakan telah mendarah daging dihati masyarakat luas, terutama ditanah air kita Indonesia, secara umum dapat di pahami bahwa dua kata tersebut diatas biasanya berkaitan dengan peristiwa kematian, yang mana dua kata ...ini diungkapkan dalam bentuk seperti acara peringatan terhadap kematian tersebut.

Acara yang diadakan oleh ahli mayit ini dihadiri oleh para kerabat , para tetangga, masyarakat sekitar, dan terkadang dengan mengundang beberapa orang jauh yang dianggap berpengaruh didaerah tersebut, hanya saja di beberapa tempat ada yang dibedakan/disendirikan antara yasinan yang biasanya diadakan pada malam jum’at dengan tahlilan yang dikaitkan dengan hitungan perhari dari kematian atau kadang disatukan dua acara tersebut dalam satu acara (hal ini sebagaimana survey Penulis dari sekitar 20 santri yang berasal dari propinsi yang berada di Indonesia). Dimulai dengan acara bacaan pujian, surat yasin atau surat yang lain, zikir-zikir, serta doa-doa yang ditujukan kepada sang mayit di alam kubur, sampai diakhiri dengan hidangan aneka makanan yang lebih dari alakadarnya, ditambah lagi biasanya mereka pulang dengan buah tangan (berkat) untuk dibawa pulang.

Dinamai yasinan karena diantara bacaan-bacaanya ada surat yasin yang menurut mereka ada berbagai keutamaan lebih disbanding surat-surat yang lain (padahal semua hadist yang menjelaskan keutamaan surat yasin tidak lepas dari derajat ‘lemah bahkan palsu’ sebagaimana yang akan kami sebutkan insya Allah). Dan dinamai tahlilan karena termasuk yang dibaca diantara dzikir-dzikirnya adalah kalimat “La ilaha illallah (kailmat ini disebut Tahlil).

Sudah menjadi kelaziman kalau ada yasinan dan tahlilan mesti ada aneka hidangan yang biasanya lebih dari sekedarnya, dan acara yang banyak dijumpai di pedesaan ini ternyata dijumpai diperkotaan juga, hanya saja kalau didaerah perkotaan biasanya acara ini berlangsung agak ringkas/cepat, dan aneka makanannya dihidangkan lebih praktis yaitu dengan cara membagi nasi kotak plus minuman didalamnya atau semisalnya.

Acara ini tidak hanya sekali diadakan, bahkan biasanya akan diadakan dari hari pertama dan atau diteruskan sampai hari ketujuh dari hari kematiannya, tiap malam jumat atau bisa berbeda menurut kebiasaan disuatu daerah tertentu, seperti hari keempat puluh, keseratus, keseribu (nyewu) atau diadakan setiap tahun.

Acara ini asal usulnya adalah dari warisan nenek moyang yang sudah berabad-abad lamanya, dan entah siapa pencentusnya, yang jelas acara ini dimaksudkan untuk mengirimkan pahala bacaan-bacaan khusus buat mayit.

Acara ini telah menjadi satu keharusan yang memberatkan dan terpaksa diadakan oleh ahli mayit, sehingga sulit untuk dihindarkan, apalagi dihapuskan, bahkan tidak jarang diantara mereka harus menghutang kesana-kemari demi hanya untuk mengadakan acara tersebut, karena ternyata menurut pengakuan yang telah meninggalkan acara yan memberatkan ini, alsan yang paling kuat mengapa mereka harus mengadakan adalah
- takut diasingkan
- dianggap melawan adat kalau tidak menyelenggarakan acara tersebut

Tidak hanya cukup disitu, bahkan beberapa orang yang gemar mendatangi acara ini tidak segan-segan mengatakan ini sunnah rasul yang seyogyanya terus dilestarikan, baik dengan menyitir hadist-hadist nabi صلی الله عليه وسلم (padahal hadistnya lemah dan palsu), atau menafsirkan hadist-hadist dengan penafsiran yang jauh dari kebenaran, atau sekedar mengutip fatwa-fatwa guru mereka, kemudian menyandarkan bahawa acara seperti ini adalah termasuk ciri khas dari penganut mazhab Syafi'i. (padahal justru mazhab syafi'i sebenarnya yang mengatakan ini termasuk bid'ah yang mungkar sebagaimana akan saya jelaskan insya Allah.)


ASAL USUL TAHLILAN

Sebelum Islam masuk ke Indonesia, telah ada berbagai macam kepercayaan yang dianut oleh sebagian besar penduduk tanah air ini, diantaranya keyakinan-keyakinan yan mendominasi saat itu adalah Animisme dan Dinamisme. Diantara mereka menyakini bahwa arwah yang telah di cabut dari jasadnya akan gentayangan disekitar rumah selama tujuh hari, kemudian setelahnya akan meninggalkan tempat tersebut dan akan kembali pada hari ke empat puluh, hari keseratus dan hari keseribunya atau mereka menyakini bahwa arwah akan datang setiap tanggal dan bulan dimana dia meninggal ia kan kembali ketempat tersebut (dan keyakinan seperti ini masih melekat kuat di hati kalangan orang awam ditanah air ini sampai hari ini). sehingga masyarakat pada saat itu ketakutan akan gangguan arwah
tersebut dan membacakan mantra-mantra sesuai dengan keyainan mereka.

Setelah Islam masuk dibawa oleh ulama yang berdagang ke tanah air ini, mereka memandang bahwa ibi adalah suatu kebiasaan yang menyelisihi syariat Islam, lalu mereka berusaha menghapusnya dengan perlahan, dengan cara memasukkan bacaan-bacaan thoyyibah sebagai pengganti mantra-mantra yang tidak dibenarkan menurut ajaran Islam dengan harapan supaya mereka bias berubah sedikit demi sedikit dan meninggalkan acara tersebut menuju acara Islam yang murni. Akan tetapi sebelum tujuan akhir ini terwujud, dan acara pembacaan kalimat-kaimat toyyibah ini sudah menggantikan bacaan mantra-mantra yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, para ulama yang bertujuan baik ini meninggal dunia, sehingga datanglah generasi selanjutnya yang mereka ini tidak mengetahui tujuan generasi awal yang telah mengadakan acara tersebut dengan maksud untuk meninggalkan secara perlahan.

Perkembangan selanjutnya datanglah generasi setelah mereka dan demikian seterusnya, kemudian pembacaan kalimat toyyibah ini mengalami banyak perubahan baik penambahan atau pengurangan dari generasi ke generasi, sehingga sering kita jumpai acara tahlilan disuatu daerah berbeda dengan prosesi tahlilan di tempat lain (ini menunjukan bahwa acara yasinan dn tahlilan sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh nabi kita dan tidak pernah dilakukan oleh para sahabat yang mulia dan juga bukan termasuk sunnah, seandainya mereka telah melakukannya pasti sampai khobarnya kepada kita bagaimana prosesi acara tersebut, sebagaimana sunnah-sunnah yang jelas disyariatkan dan telah mereka lakukan, sehingga kita mengetahui bagaimana kita harus mengamalkannya sesuai dengan contohnya.) Sampai hari ini

http://islamtanpasyirikkhurafatdanbidah.blogspot.com/2010/10/bab-1-sekilas-yasinan-dan-tahlilan.html

3 komentar — Skip ke Kotak Komentar

Mujaim Mahmud mengatakan...

setuju saya dengan pendapat anda.Karena islam masuk ke Indonesia dengan damai.Janganlah kebiasaan dan adat istidat kita dibuang begitu saja, karena adat dan budaya kita berbeda dengan negara lain.Adat budaya yang dikembangkan oleh nenek moyang kita penuh kearifan dengan tujuan menjaga persatuan dan kesatuan dinegara kita, yang salah satuanya adalah tahlilan.Dengan tahlilan itu bentuk kerukunan umat muslim di Indonesia,jika ada aliran yang menentang tahlilan , karena mereka tidak suka kerukunan dan persatuan umat muslim dinegara kita.Ingat hari raya Idhul fitri dan hari raya Idhul adha juga Nabi Muhamad SAW mengdofsi budaya Kafir Qurais yang mempunyai dua hari raya besar yang selalu diperingai oleh orang qurais.Jadi apa salahnya budaya kita dalam hal kematian dikemas lebih islami dalam bentuk tahlilaln.Ingat tahlilan ini sudah dilakukan oleh para kiyai dan ulama kita yang sudah banyak hapal Alquran.Bagaimana dengan orang-orang yang melarang tahlilan, apakah mereka sudah hapal Alquran?.Ingat negara luar tidak suka dengan persatuan dan kesetauan negara kita mereka berusaha mencoba memecah belah umat muslim dinegara kita dengan kedok agama dan mengatakan bidah.

zhendzhaenudint mengatakan...

BUNG MUJAIM: waduhhhh...... yang menetentang tahlilan itu buka berarti mereka tidak suka kerukunan dan persatuan umat muslim di indonesia, tetapi itulah syariat islam/ hukum islam, ingat ya hukum islam yang membuat itu bukan manusia tetapi Allah SWT, jadi tidak mungkin ada perubahan/ diamandemenkan, kalau masalah mengdofsi budaya kayaknya semua agama mempunyai hari besar ya nda gan?
ingat pedoman umat islam itu hanya alquran dan as-sunnah tidak ada yang lain, kalaupun ada hukum-hukum yang tidak tercantum pada alquran dan assunah itu berarti mempergunakan al-ijma da al-qiyas itu pun harus sesuai tarjih para ulama yang bener2 akurat jd kita sebagai umat islam tidak terjerumus kepada hal2 yang dibiid'ahkan atau menjalani dengan pedoman hadis lemah atau palsu, ingat yahhh ... agama islam bukan agama yang pertama masuk diindonesia, yang pertama masuk keindonesia adalah agama hindu-budha jadi para penyebar agama islam tidak sepenuhnya melarang tetpi merubah dengan bacaan2 islami, kata orang dilingkunngan tempat tinggalku tahlilan itu anjuran imam syafi'i, huuhhh padahal imam syafii pun melarang dan meyebutkan sebagai bid'ah mungkarot

heri bahari mengatakan...

Banyak orang sok tahu soal tahlilan. Kalau mau tahu banyak tentang tahlilan ya datang ke pondok pesntren di sana datanya ada. Dari keturunan nabi di Indonesia banyak. Bukan dari buku-buku yang sudah dicetak diputar balik oleh tangan-tangan kotor untuk menghancurkan umat Islam. Jaman dulu itu tidak ada buku karena kertas mahal. nenek saya dulu membeli Al Qur'an harus jual kerbau karena harga satu Qur'an senilai sau ekor kerbau. Itu yang punya uang, yang tidak punya ya hapalan. Di jaman merdeka sekolah masih banyak yang belum memakai kertas dan pulpen. Nulisnya pakai sabak dan gerip. Sabak itu terbuat dari tanah yang warnanya hitam gerip berupa batu kecil panjang yang bisa menggores dibentuk tulisan, kalau sudah hapal dihapus. Jaman dulu yang jadi andalan ialah hapalan. Bagi yang suka nulis itu diragukan kecerdasannya.

Poskan Komentar — or Kembali ke Postingan